Harmoni Nada dan Visi Melampaui Zaman

“Teruslah berpikir kreatif dan jangan pernah ragu untuk berinovasi, namun tetap berpijak pada realitas kemampuan yang ada. Perubahan dunia selalu diawali dari satu kata: ‘Iqra’ atau Gemar Membaca (Remen Maos). Dengarkan aspirasi masyarakat dan wujudkanlah, karena dari sanalah masa depan dibangun.”

 

Drs. Seno Samodro

Bupati Boyolali (2010–2015 & 2016–2021)

Sebuah lompatan peradaban sering kali lahir dari keprihatinan yang sangat sederhana. Memandangi ruang tamu pemerintahan di Jalan Merbabu yang hanya berupa pringgitan sempit—di mana tamu kenegaraan hingga koordinasi darurat letusan Merapi harus berdesak-desakan—sebuah gagasan besar pun tercetus. Menyadari bahwa pusat pemerintahan yang lama sudah tidak layak secara modern, langkah taktis namun visioner diambil. Di tengah keterbatasan anggaran daerah yang tidak memungkinkan untuk membeli lahan, aset tanah kas desa seluas hampir 12 hektar di Kemiri disulap menjadi kanvas baru kebanggaan masyarakat Boyolali.

Tentu, niat baik tidak selalu mudah diterima. Mengurai dinamika politik dan meyakinkan puluhan wakil rakyat membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Namun, dengan penganggaran yang bertahap dan tekad baja, pemindahan ibu kota kabupaten itu berhasil diwujudkan—sebuah pencapaian langka yang sering kali berujung kegagalan di banyak daerah lain di Indonesia. Tak sekadar membangun ruang kerja, kompleks Kemiri dirancang sebagai simbol toleransi; menyatukan lima tempat peribadatan dalam satu kawasan, merajut keberagaman layaknya menyatukan nada Do, Mi, Fa, La, Re menjadi sebuah harmoni yang indah.

Visi transformasinya pun merentang jauh melampaui susunan batu bata. Berbekal lebih dari satu dekade pengalaman hidup di Paris, tata kota Boyolali disuntik dengan ruh estetika yang menjadikan setiap sudutnya artistik. Revolusi juga menyentuh aspek tak kasat mata melalui pemasangan fiber optic di seluruh penjuru daerah untuk memberantas blank spot, serta pendirian perpustakaan ikonik “Remen Maos” di jantung kota. Dengan berani, ia mendobrak konsep perpustakaan konvensional—mengubah wujud fisik menjadi kekuatan digital (hardware menjadi software)—agar jendela dunia dapat diakses oleh siapa saja hanya dengan ujung jari.

Seluruh mahakarya infrastruktur ini bermuara pada satu rancangan tata ruang yang brilian: menciptakan kompleks yang mampu menampung ribuan kendaraan tanpa memicu kemacetan, sebuah prestasi kelancaran yang diakui langsung oleh pengawal kepresidenan. Inovasi demi inovasi ini lahir demi satu filosofi luhur, menjadikan Smile of Java sebagai kota yang nyaman ditinggali dan dirindukan. Sebuah dedikasi tak berkesudahan yang ditutup dengan senandung tulus dari sang inisiator: “Sak tenane aku ora ngapusi, isih tresno Boyolali.”